
Cerita Ngentot Tetangga Yang Lagi Hamil

12 Feb 2016 - 13:02:01

Kategori: Cerita Panas
Aku adalah seorang eksekutif muda yang baru
diangkat
menjadi manajer di sebuah perusahaan swasta
di Surabaya.
Sebut saja namaku Aldi, tinggi 175 cm kata
orang aku mirip pemain bulu tangkis Ricky S. Kisah ini terjadi
hampir setahun
yang lalu. Umurku saat itu 30 tahun. Aku
sudah pernah ngentot
istri orang yang beristri dan beranak 2,
berumur 3 tahun dan yang bungsu baru 1 bulan. Isteri dan anakku masih tinggal di
Malang karena saat melahirkan anak kedua
tinggal di rumah
orang tuanya dan belum pulang ke Surabaya.
Kisah ini terjadi
saat pulang dari kerja lembur sekitar pukul 11:00 malam. Dengan mobil Baleno
kesayanganku, aku menyusuri Jalan di
kawasan perumahan elit yang mulai sepi karena
kebetulan
hujan gerimis. Ditengah perjalanan aku melihat
perempuan setengah baya berdiri di bawah pohon di pinggir
jalan. Aku
merasa kasihan lalu aku menghentikan mobil dan
menghampirinya. Aku bertanya, “Ibu sedang
menunggu apa?” Dia memandangku agak curiga
tapi kemudian tersenyum. Dalam hati aku memuji, Manis juga ibu ini
walaupun umurnya
kelihatannya di atasku sekitar 34 -36 tahun
kalau digambarkan
seperti artis Misye Arsita dan saat itu
perutnya agak membuncit kecil kelihatan sedang hamil muda.
“Kalau ke
manukan naik angkot apa ya Dik?” “Wah jam
segini sudah habis Bu angkotnya, Gimana kalo
saya antar?” Dia kelihatan
gembira. “Apa tidak merepotkan?” “Kebetulan rumah saya juga
satu arah dari sini, mari naik!” Setelah dia ikut
mobilku, Ibu itu
bercerita bahwa dia berasal dari Jawa Tengah,
dia sedang
mencari suaminya yang kebetulan baru 2 minggu kerja sebagai
sopir bis jurusan Semarang-Surabaya,
keperluannya ke sini hendak mengabarkan kalau
anaknya yang pertama yang
berumur 15 tahun kecelakaan dan dirawat di
rumah sakit sehingga butuh uang untuk perawatan anaknya.
Kebetulan
alamat yang di tulis oleh suaminya tidak ada
nomer
teleponnya. Sesampainya di alamat yang dituju
kami berhenti. Setelah di depan rumah ketika akan mengetuk
pintu ternyata pintunya masih digembok, lalu
kami bertanya pada tetangga
sebelah yang kebetulan satu profesi. “Suami
Ibu paling cepat 2
hari lagi pulangnya. Baru saja sore tadi bisnya berangkat ke
Semarang. Kebetulan kami satu PO.” Kemudian
kami permisi
pergi. Kelihatan di dalam mobil dia sedih sekali.
“Terus sekarang Ibu
mau ke mana?” tanyaku. “Sebenarnya saya pengin pulang tapi..
pasti saya nanti di marahi mertua saya kalau
pulang dengan
tangan kosong, lagian uang saya juga sudah
nggak cukup untuk
pulang.” “Begini saja, Ibu kan rumahnya jauh, capek kan baru
nyampek trus pulang lagi.. apalagi kelihatanya
ibu sedang hamil, berapa bulan?” “Empat bulan
ini Dik, trus saya harus
gimana?” “Dalam dua hari ini Ibu tinggal saja di
rumah saya, kan nggak jauh dari manukan nanti setelah dua hari
ibu saya antar
ke sini lagi, gimana?” “Yah terserah adik saja
yang penting
saya bisa istirahat malam ini.” “Oh ya, boleh
kenalan.. nama Ibu siapa dan usianya sekarang berapa?” “Panggil
saja aku Mbak Menik, dan sekarang aku 35
tahun.” Malam itu, dia kusuruh tidur
di kamar samping yang biasanya dipakai untuk
kamar tamu
yang mau menginap. Rumahku terdiri dari 3 kamar, kamar
depan kupakai sendiri dan isteriku, sedang yang
belakang
untuk anakku yang pertama. Malam itu aku
tidur nyenyak
sekali, kebetulan malam sabtu dan di kantorku hanya berlaku 5 hari kerja jadi sabtu dan
minggu aku libur. Sebenarnya aku ingin
pergi ke Malang tapi karena ada tamu,
kutangguhkan
kepergianku minggu depan. Sekitar jam 8 pagi
aku bangun, kulihat sudah ada kopi yang sudah agak dingin
di meja makan
serta beberapa kue di piring. Mungkinkah ibu
itu yang
menyajikan semua ini. Lalu setelah kuteguk
kopi itu aku bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka dan kencing. Karena agak ngantuk aku
kurang mengawasi apa yang terjadi,
saat aku selesai kencing aku tidak sadar kalau
di bathup Mbak
Menik sedang telanjang dan berendam di
dalamnya. Matanya melotot melihat kemaluanku yang menjulur
bebas, ketika aku
membalik ke samping aku kaget dan sempat
tertegun melihat
tubuh telanjang Mbak Menik, tubuh yang
kuning langsat dan mulus itu terlihat mengkilat karena basah oleh air dan buah
dadanya.. wow besar juga ternyata, 36B. Pasti
empunya gila
seks. Lalu mataku berpindah ke sekitar
pusarnya, di atas liang
senggamanya tumbuh bulu kemaluannya yang lebat. Tak sadar
kemaluanku tegak berdiri dan aku lupa kalau
belum
mengancingkan celana, Dan Mbak Menik sempat
tertegun melihat kejantananku yang lumayan
besar, panjangnya 17 cm tapi kemudian.. “Aouuww, Dik itunyaa!” kata
Mbak Menik sambil
menutup buah dadanya dengan tangan serta
mengapitkan
kakinya. Aku baru sadar lalu buru-buru keluar.
Di kamar aku masih membayangkan keindahan tubuh Mbak Menik.
Andai saja aku
bisa menikmati tubuh itu… aku malah
berpikiran ngeres karena
memang sudah lama aku tidak mendapat jatah
dari isteriku, ditambah lagi situasi di rumah itu hanya kami
berdua. Lalu
timbul niat isengku untuk mengintip lagi ke
kamar mandi, ternyata dia sudah keluar lalu
kucari ke kamarnya. Saat di
depan pintu samar-samar aku mendengar ada suara rintihan
dari dalam kamar samping, kebetulan nako
jendela kamar itu
terbuka lalu kusibakkan tirainya perlahan-
lahan. Sungguh
pemandangan yang amat syur. Kulihat Mbak Menik sedang
masturbasi, kelihatan sambil berbaring di
ranjang dia masih telanjang bulat, kakinya
dikangkangkan lebar, tangan kirinya
meremas liang kewanitaannya sambil jarinya
dimasukkan ke dalam lubang senggamanya, sedang tangan
kanannya meremas
buah dadanya bergantian. Sesekali pantatnya
diangkat tinggi sambil mulutnya mendesis
seperti orang kepedasan, wajahnya kelihatan
memerah dengan mata terpejam. “Ouuuhh… Hhhmm…
Ssstt…” Aku semakin
penasaran ingin melihat dari dekat, lalu kubuka
pintu kamarnya
pelan- pelan tanpa suara aku berjingkat masuk.
Aku semakin tertegun melihat pemandangan yang
merangsang birahi itu. Samar- samar kudengar
dia menyebut namaku, “Ouhhh Aldiii..
Sss Ahhh..” Ternyata dia sedang membayangkan
bersetubuh
denganku, kebetulan sekali rasanya aku sudah tidak tahan lagi
ingin segera menikmati tubuhnya yang mulus
walau perutnya
agak membuncit, justru menambah nafsuku.
Lalu pelan-pelan
kulepaskan pakaianku satu-persatu hingga aku telanjang bulat.
Batang kemaluanku sudah sangat tegang,
kemudian tanpa
suara aku menghampiri Mbak Menik, kuikuti
gerakan tangannya
meremasi buah dadanya. Dia tersentak kaget lalu menarik
selimut dan menutupi tubuhnya. \ “Sedang apa
Anda di sini!,
tolong keluar!” katanya agak gugup. “Mbak
nggak usah panik..
kita sama-sama butuh.. sama-sama kesepian, kenapa tidak kita salurkan bersama,” kataku
merajuk sambil terus berusaha
mendekatinya tapi dia terus menghindar.
“Ingat Dik, saya
sudah bersuami dan beranak tiga,” Dia terus
menghiba. “Mbak, saya juga sudah beristri dan punya anak, tapi
kalau sekarang
terus terang saya sangat terpesona oleh
Mbak.. Nggak ada
orang lain di sini.. cuma kita berdua.. pasti
nggak ada yang tahu.. Ayolah saya akan memuaskan Mbak, saya janji nggak
akan menyakiti Mbak, kita lakukan atas dasar
suka sama suka
dan sama-sama butuh, mari Mbak!” “Tapi saya
sekarang
sedang hamil, Dik.. kumohon jangan,” pintanya terus. Aku hanya
tersenyum, “Saya dengar tadi samar-samar
Mbak menyebut
namaku, berarti Mbak juga inginkan aku.. jujur
saja. ” Dan aku berhasil menyambar selimutnya,
lalu dengan cepat kutarik dia dan kujatuhkan di atas ranjang dan
secepat kilat
kutubruk tubuhnya, dan wajahnya kuhujani
ciuman tapi dia
terus meronta sambil berusaha mengelak dari
ciumanku. Segera tanganku beroperasi di dadanya. Buah
dadanya yang
lumayan besar itu jadi garapan tanganku yang
mulai nakal. “Ouughh jangaan Diik.. Kumohon
lepaskaan..” rintihnya.
Tanganku yang lain menjalari daerah kewanitaannya, bulu- bulu
lebatnya telah kulewati dan tanganku akhirnya
sampai di liang
senggamanya, terasa sudah basah. Lalu
kugesek-gesek
klirotisnya dan kurojok-rojok dinding kemaluannya, terasa
hangat dan lembab penuh dengan cairan mani.
“Uhhh… ssss..” Akhirnya dia mulai pasrah
tanpa perlawanan. Nafasnya mulai tersengal-
sengal. “Yaahhh… Ohhh…
Jangaaann Diik, Jangan lepaskan, terusss…” Gerakan Mbak
Menik semakin liar, dia mulai membalas
ciumanku bibirku dan
bibirnya saling berpagutan. Aku senang, kini dia
mulai
menikmati permainan ini. Tangannya meluncur ke bawah dan
berusaha menggapai laras panjangku, kubiarkan
tangannya menggenggamnya dan mengocoknya.
Aku semakin beringas lalu
kusedot puting susunya dan sesekali menjilati
buah dadanya yang masih kencang walaupun sudah menyusui
tiga anaknya.
“Yahh… teruuuss, enaakkk…” katanya sambil
menggelinjang.
Kemudian aku bangun, kulebarkan kakinya dan
kutekuk ke atas. Aku semakin bernafsu melihat liang
kewanitaannya yang merah mengkilat. Dengan
rakus kujilati bibir kewanitaan Mbak Menik.
“Aaahh.. Ohhh.. enaakkk Diik.. Yaakh..
teruusss..” Kemudian
lidahku kujulurkan ke dalam dan kutelan habis cairan maninya.
Sekitar bulu kemaluannya juga tak luput dari
daerah jamahan
lidahku maka kini kelihatan rapi seperti habis
disisir.
Klirotisnya tampak merah merekah, menambah gairahku untuk menggagahinya. “Sudaahhh
Dikk.. sekarang.. ayolah sekarang..
masukkan.. aku sudah nggak tahan..” pinta Mbak
Menik. Tanpa
buang waktu lagi kukangkangkan kedua kakinya
sehingga liang kewanitaannya kelihatan terbuka. Kemudian
kuarahkan batang kejantananku ke lubang
senggamanya dan agak sempit rupanya atau
mungkin karena
diameter kemaluanku yang terlalu lebar.
“Pelan-pelan Dik, punya kamu besar sekali.. ahhh…” Dia menjerit
saat
kumasukkan seluruh batang kemaluanku hingga
aku merasakan
mentok sampai dasar rahimnya. Lalu kutarik
dan kumasukkan lagi, lama-lama kupompa semakin cepat. “Oughhh.. Ahhh.. Ahhh..
Ahhh..” Mbak Menik mengerang tak beraturan,
tangannya
menarik kain sprei, tampaknya dia menikmati
betul
permainanku. Bibirnya tampak meracau dan merintih, aku
semakin bernafsu, dimataku dia saat itu
adalah wanita yang
haus dan minta dipuaskan, tanpa berpikir aku
sedang meniduri istri orang apalagi dia sedang
hamil. “Ouuhh Diik.. Mbak mau kelu.. aaahhh…” Dia menjerit sambil tangannya
mendekap erat
punggungku. Kurasakan, “Seerrr… serrr..” ada
cairan hangat
yang membasahi kejantananku yang sedang
tertanam di dalam kemaluannya. Dia mengalami orgasme yang
pertama. Aku
kemudian menarik lepas batang kejantananku
dari kemaluannya. Aku belum mendapat
orgasme. Kemudian aku
memintanya untuk doggy style. Dia kemudian menungging,
kakinya dilebarkan. Perlahan-lahan kumasukkan
lagi batang
kebanggaanku dan, “Sleeep..” batang itu mulai
masuk hingga
seluruhnya amblas lalu kugenjot maju mundur. Mbak Menik
menggoyangkan pinggulnya mengimbangi gerakan
batang kejantananku. “Gimaa.. Mbaak, enak
kan?” kataku sambil
mempercepat gerakanku. “Yahhh.. ennakk.. Dik
punyaa kamu enak banget.. Aahhh.. Aaah.. Uuuhh.. Aaahh..
ehhh..” Dia
semakin bergoyang liar seperti orang kesurupan.
Tanganku menggapai buah dadanya yang
menggantung indah
dan bergoyang bersamaan dengan perutnya yang membuncit.
Buah dada itu kuremas-remas serta kupilin
putingnya. Akhirnya
Aku merasa sampai ke klimaks, dan ternyata
dia juga
mendapatkan orgasme lagi. “Creeett.. croottt.. serrr..”
spermaku menyemprot di dalam rahimnya
bersamaan dengan maninya yang keluar lagi.
Kemudian kami ambruk bersamaan di
ranjang. Aku berbaring, di sebelah kulihat Mbak
Menik dengan wajah penuh keringat tersenyum puas
kepadaku. “Terima kasih
Dik, saya sangat puas dengan permainanmu,”
katanya. “Mbak,
setelah istirahat bolehkah saya minta lagi?”
tanyaku. “Sebenarnya saya juga masih pengin, tapi kita
sarapan dulu kemudian kita lanjutkan lagi.”
Akhirnya selama 2 hari sabtu dan
minggu aku tidak keluar rumah, menikmati
tubuh montok Mbak
Menik yang sedang hamil 4 bulan. Berbagai gaya kupraktekkan
dengannya dan kulakukan di kamar mandi, di
dapur dan di meja
makan bahkan sempat di halaman belakang
karena rumahku
dikelilingi tembok. Di tanah kubentangkan tikar dan kugumuli dia sepuasnya. Pada istriku
kutelepon kalau aku ada tugas luar
kota selama 2 hari, pulangnya hari Senin. Mbak
Menik bilang
selama 2 hari itu dia betul-betul merasakan
seks yang sesungguhnya tidak seperti saat dia
bersetubuh dengan
suaminya yang asal tubruk lalu KO. Dan Dia
berjanji kalau
sedang mengunjungi suaminya, dia akan
menyempatkan meneleponku untuk minta jatah dariku. Minggu malam kuantarkan dia ke kost
suaminya tapi hanya
sampai ujung gang dan tidak lupa kuberi dia
uang sebesar Rp
500.000,- sebagai bantuanku pada anaknya
yang sedang di rumah sakit. Setelah istriku balik ke rumah,
dia menghubungiku
lewat telepon di kantor dan ketemu di
terminal. Kami
melakukan persetubuhan disalah satu hotel
murah di Surabaya atau kadang di Pantai Kenjeran kalau malam hari. Hingga
kehamilannya menginjak usia 7 bulan kami
berhenti, hingga
sekarang dia belum memberi kabar, kalau
dihitung anaknya
sudah lahir dan berusia 6 bulan.
Dapatkan postingan terbaru dan ikuti:
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk artikel "Cerita Ngentot Tetangga Yang Lagi Hamil"