
Cerita Ngentot Istri Teman Kuliahku

12 Feb 2016 - 13:02:04

Kategori: Cerita Panas
Sebut saja namanya “Sidar” (nama samaran).
Dia adalah seorang
wanita bersuku campuran. Bapaknya berasal
dari kota Menado
dan Ibunya dari kota Makassar. Bapaknya
adalah seorang polisi berpangkat Serma, sedang ibunya adalah
pengusaha kayu. Singkat cerita, ketika hari pertama aku
ketemu dengan teman
kuliahku itu, rasanya kami langsung akrab
karena memang
sewaktu kami sama-sama duduk di bangku
kuliah, kami sangat kompak dan sering tidur bersama di rumah
kostku di kota
Bone. Bahkan seringkali dia mentraktirku. “Nis,
aku senang sekali bertemu denganmu dan
memang sudah
lama kucari-cari, maukah kamu mengingap barang sehari atau
dua hari di rumahku?” katanya padaku sambil
merangkulku
dengan erat sekali. Nama teman kuliahku itu
adalah “Nasir”. “Kita lihat saja nanti. Yang
jelas aku sangat bersukur kita bisa ketemu di tempat ini. Mungkin inilah namanya
nasib baik,
karena aku sama sekali tidak menduga kalau
kamu tinggal di
kota Makassar ini” jawabku sambil membalas
rangkulannya. Kami berangkulan cukup lama di sekitar pasar
sentral
Makassar, tepatnya di tempat jualan cakar.
“Ayo kita ke rumah dulu Nis, nanti kita ngobrol
panjang lebar di
sana, sekaligus kuperkenalkan istriku” ajaknya sambil
menuntunku naik ke mobil Feroza miliknya.
Setelah kami tiba di
halaman rumahnya, Nasir terlebih dahulu turun
dan segera
membuka pintu mobilnya di sebelah kiri lalu mempersilakan aku
turun. Aku sangat kagum melihat rumah
tempat tinggalnya yang berlantai dua. Lantai
bawah digunakan sebagai gudang
dan kantor perusahaannya, sementara lantai
atas digunakan sebagai tempat tinggal bersama istri. Aku
hanya ikut di
belakangnya. “Inilah hasil usaha kami Nis selama
beberapa tahun di
Makassar” katanya sambil menunjukkan
tumpukan beras dan ruangan kantornya. “Wah cukup hebat kamu Sir.
Usahamu cukup lemayan. Kamu
sangat berhasil dibanding aku yang belum jelas
sumber
kehidupanku” kataku padanya. “Dar, Dar, inilah
teman kuliahku dulu yang pernah kuceritakan tempo hari. Kenalkan istri cantik saya” teriak
Nasir memanggil
istrinya dan langsung kami dikenalkan. “Sidar”,
kata istrinya menyebut namanya ketika
kusalami
tangannya sambil ia tersenyum ramah dan manis seolah
menunjukkan rasa kegembiraan. “Anis”, kataku
pula sambil membalas senyumannya. Nampaknya
Sidar ini adalah seorang istri yang baik hati,
ramah dan selalu memelihara kecantikannya.
Usianya kutaksir baru sekitar 25 tahun dengan tubuh sedikit
langsing dan tinggi
badan sekitar 145 cm serta berambut agak
panjang.
Tangannya terasa hangat dan halus sekali.
Setelah selesai menyambutku, Sidar lalu mempersilakanku
duduk dan ia buru- buru masuk ke dalam seolah
ada urusan penting di dalam. Belum
lama kami bincang-bincang seputar perjalanan
usaha Nasir dan
pertemuannya dengan Sidar di Kota Makassar ini, dua cangkir
kopi susu beserta kue-kue bagus dihidangkan
oleh Sidar di atas
meja yang ada di depan kami. “Silakah Kak,
dinikmati hidangan ala kadarnya” ajakan Sidar
menyentuh langsung ke lubuk hatiku. Selain karena senyuman
manisnya, kelembutan suaranya, juga karena
penampilan,
kecantikan dan sengatan bau farfumnya yang
harum itu. Dalam
hati kecilku mengatakan, alangkah senang dan bahagianya
Nasir bisa mendapatkan istri seperti Sidar ini.
Seandainya aku juga mempunyai istri seperti
dia, pasti aku tidak bisa ke
mana-mana “Eh, kok malah melamun. Ada
masalah apa Nis sampai termenung begitu? Apa yang mengganggu
pikiranmu?” kata
Nasir sambil memegang pundakku, sehingga aku
sangat kaget
dan tersentak. “Ti.. Tidak ada masalah apa-apa
kok. Hanya aku merenungkan sejenak tentang pertemuan kita hari ini.
Kenapa bisa terjadi
yah,” alasanku. Sidar hanya terdiam mendengar
kami bincang-bincang dengan
suaminya, tapi sesekali ia memandangiku dan
menampakkan wajah cerianya. “Sekarang giliranmu Nis cerita
tentang perjalanan hidupmu
bersama istri setelah sejak tadi hanya aku
yang bicara.
Silahkan saja cerita panjang lebar mumpun hari
ini aku tidak ada kesibukan di luar. Lagi pula anggaplah hari
ini adalah hari
keistimewaan kita yang perlu dirayakan
bersama. Bukankah
begitu Dar..?” kata Nasir seolah cari dukungan
dari istrinya dan waktunya siap digunakan khusus untukku. “Ok, kalau gitu aku akan
utarakan sedikit tentang kehidupan
rumah tanggaku, yang sangat bertolak belakang
dengan
kehidupan rumah tangga kalian” ucapanku
sambil memperbaiki dudukku di atas kursi empuk itu. “Maaf jika
terpaksa kuungkapkan secara terus terang.
Sebenarnya kedatanganku di kota Makassar ini
justru karena
dipicu oleh problem rumah tanggaku. Aku selalu
cekcok dan bertengkar dengan istriku gara-gara aku
kesulitan
mendapatkan lapangan kerja yang layak dan
mempu
menghidupi keluargaku. Akhirnya kuputuskan
untuk meninggalkan rumah guna mencari pekerjaan di kota ini. Eh..
Belum aku temukan pekerjaan, tiba-tiba kita
ketemu tadi
setelah dua hari aku ke sana ke mari. Mungkin
pertemuan kita
ini ada hikmahnya. Semoga saja pertemuan kita ini merupakan
jalan keluar untuk mengatasi kesulitan
rumahtanggaku” Kisahku
secara jujur pada Nasir dan istrinya.
Mendengar kisah sedihku itu, Nasir dan
istrinya tak mampu berkomentar dan nampak ikut sedih, bahkan
kami semua
terdiam sejenak. Lalu secara serentak mulut
Nasir dan istrinya
terbuka dan seolah ingin mengatakan sesuatu,
tapi tiba-tiba mereka saling menatap dan menutup kembali
mulutnya seolah
mereka saling mengharap untuk memulai, namun
malah mereka ketawa terbahak, yang
membuatku heran dan memaksa juga
ketawa. “Begini Nis, mungkin pertemuan kita ini benar ada hikmahnya,
sebab kebetulan sekali kami butuh teman
seperti kamu di
rumah ini. Kami khan belum dikaruniai seorang
anak, sehingga
kami selalu kesepian. Apalagi jika aku ke luar kota misalnya ke
Bone, maka istriku terpaksa sendirian di rumah
meskipun
sekali-kali ia memanggil kemanakannya untuk
menemani selama aku tidak ada, tapi aku
tetap menghawatirkannya. Untuk itu, jika tidak memberatkan, aku inginkan kamu
tinggal bersamaku.
Anggaplah kamu sudah dapatkan lapangan kerja
baru sebagai
sumber mata pencaharianmu. Segala keperluan
sehari-harimu, aku coba menanggung sesuai kemampuanku”
kata Nasir
bersungguh-sungguh yang sesekali diiyakan oleh
istrinya. “Maaf kawan, aku tidak mau
merepotkan dan membebanimu.
Biarlah aku cari kerja di tempat lain saja dan..” Belum aku
selesai bicara, tiba-tiba Nasir memotong dan
berkata.. “Kalau kamu tolak tawaranku ini
berarti kamu tidak
menganggapku lagi sebagai sahabat. Kami ikhlas
dan bermaksud baik padamu Nis” katanya. “Tetapi,”
Belum kuutarakan maksudku, tiba-tiba Sidar
juga ikut
bicara.. “Benar Kak, kami sangat membutuhkan
teman di rumah ini.
Sudah lama hal ini kami pikirkan tapi mungkin baru kali ini
dipertemukan dengan orang yang tepat dan
sesuai hati nurani.
Apalagi Kak Anis ini memang sahabat lama Kak
Nasir, sehingga
kami tidak perlu ragukan lagi. Bahkan kami sangat senan jika
Kak sekalian menjemput istrinya untuk tinggal
bersama kita di rumah ini” ucapan Sidar
memberi dorongan kuat padaku. “Kalau begitu,
apa boleh buat. Terpaksa kuterima dengan
senang hati, sekaligus kuucapkan terima kasih yang tak
terhingga atas budi baiknya. Tapi sayangnya,
aku tak memiliki
keterampilan apa-apa untuk membantu kalian”
kataku dengan
pasrah. Tiba-tiba Nasir dan Sidar bersamaan berdiri dan langsung
saling berpelukan, bahkan saling mengecup bibir
sebagai tanda
kegembiraannya. Lalu Nasir melanjutkan
rangkulannya padaku
dan juga mengecup pipiku, sehingga aku sedikit malu
dibuatnya. “Terima kasih Nis atas kesediaanmu
menerima tawaranku
semoga kamu berbahagia dan tidak kesulitan
apapun di rumah
ini. Kami tak membutuhkan keterampilanmu, melainkan
kehadiranmu menemani kami di rumah ini. Kami
hanya butuh
teman bermain dan tukar pikiran, sebab tenaga
kerjaku sudah
cukup untuk membantu mengelola usahaku di luar. Kami sewaktu-waktu membutuhkan
nasehatmu dan istriku pasti
merasa terhibur dengan kehadiranmu menemani
jika aku keluar
rumah” katanya dengan sangat bergembira dan
senang mendengar persetujuanku. Kurang lebih satu
bulan lamanya kami seolah hanya
diperlakukan sebagai raja di rumah itu.
Makanku diurus oleh
Sidar, tempat tidurku terkadang juga
dibersihkan olehnya, bahkan ia meminta untuk mencuci pakaianku
yang kotor tapi
aku keberatan. Selama waktu itu pula, aku
sudah dilengkapi
dengan pakaian, bahkan kamar tidurku dibelikan
TV 20 inch lengkap dengan VCD-nya. Aku sangat malu dan merasa
berutang budi pada mereka, sebab selain
pakaian, akupun
diberi uang tunai yang jumlahnya cukup besar
bagiku, bahkan
belakangan kuketahui jika ia juga seringkali kirim pakaian dan
uang ke istri dan anak-anakku di Bone lewat
mobil. Kami bertiga sudah cukup akrab dan
hidup dalam satu rumah
seperti saudara kandung bersenda gurau,
bercengkerama dan bergaul tanpa batas seolah tidak ada
perbedaan status
seperti majikan dan karyawannya. Kebebasan
pergaulanku
dengan Sidar memuncak ketika Nasir berangkat
ke Sulawesi Tenggara selama beberapa hari untuk membawa
beras untuk di jual di sana karena ada
permintaan dari langgarannya. Pada malam
pertama keberangkatan Nasir, Sidar nampak
gembira sekali seolah tidak ada kekhawatiran
apa-apa. Bahkan sempat mengatakan kepada suaminya itu kalau
ia tidak takut
lagi ditinggalkan meskipun berbulan-bulan
lamanya karena
sudah ada yang menjaganya, namun ucapannya
itu dianggapnya sebagai bentuk humor terhadap
suaminya. Nasir pun nampak tidak ada
kekhawatiran meninggalkan istrinya
dengan alasan yang sama. Malam itu kami (aku
dan Sidar) menonton bersama di ruang
tamu hingga larut malam, karena kami sambil tukar
pengalaman, termasuk soal sebelum nikah dan
latar belakang
perkawinan kami masing-masing. Sikap dan
tingkah laku Sidar
sedikit berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Malam itu,
Sidar membuat kopi susu dan menyodorkanku
bersama pisang susu, lalu kami nikmati
bersama-sama sambil nonton. Ia makan
sambil berbaring di sampingku seolah dianggap
biasa saja. Sesekali ia membalikkan tubuhnya kepadaku
sambil bercerita,
namun aku pura-pura bersikap biasa, meskipun
ada ganjalan
aneh di benakku. “Nis, kamu tidak keberatan
khan menemaniku nonton malam ini? Besok khan tidak ada yang mengganggu kita
sehingga kita
bisa tidur siang sepuasnya?” tanya Sidar tiba-
tiba seolah ia
tak mengantuk sedikitpun.
“Tidak kok Dar. Aku justru senang dan bahagia bisa nonton
bersama majikanku” kataku sedikit
menyanjungnya. Sidar lalu mencubitku dan..
“Wii de.. De, kok aku dibilangin majikan. Sebel
aku
mendengarnya. Ah, jangan ulang kata itu lagi deh, aku tak sudi
dipanggil majikan” katanya.
“Hi.. Hi.. Hi, tidak salah khan. Maaf jika tidak
senang, aku hanya
main-main. Lalu aku harus panggil apa? Adik,
Non, Nyonya atau apa?” “Terserah dech, yang penting bukan majikan.
Tapi aku lebih
seneng jika kamu memanggil aku adik” katanya
santai.
“Oke kalau begitu maunya. Aku akan panggil
adik saja” kataku lagi. Malam semakin larut. Tak satupun
terdengar suara kecuali
suara kami berdua dengan suara TV. Sidar tiba-
tiba bangkit
dari pembaringannya. “Nis, apa kamu sering
nonton kaset VCD bersama istrimu?” tanya Sidar dengan sedikit rendah suaranya
seolah tak mau
didengar orang lain.
“Eng.. Pernah, tapi sama-sama dengan orang lain
juga karena
kami nonton di rumahnya” jawabku menyembunyikan sikap
keherananku atas pertanyaannya yang tiba-
tiba dan sedikit aneh itu.
“Kamu ingat judulnya? Atau jalan ceritanya?”
tanyanya lagi.
“Aku lupa judulnya, tapi pemainnya adalah Rhoma Irama dan
ceritanya adalah masalah percintaan” jawabku
dengan pura-
pura bersikap biasa.
“Masih mau ngga kamu temani aku nonton film
dari VCD? Kebetulan aku punya kaset VCD yang banyak. Judulnya
macam-macam. Terserah yang mana Anis suka”
tawarannya,
tapi aku sempat berfikir kalau Sidar akan
memutar film yang
aneh-aneh, film orang dewasa dan biasanya khusus ditonton
oleh suami istri untuk membangkitkan
gairahnya. Setelah kupikir segala resiko,
kepercayaan dan dosa, aku lalu
bikin alasan. “Sebenarnya aku senang sekali,
tapi aku takut.. Eh.. Maaf aku sangat ngantuk. Jika tidak keberatan, lain kali
saja, pasti
kutemani” kataku sedikit bimbang dan takut
alasanku salah.
Tapi akhirnya ia terima meskipun nampaknya
sedikit kecewa di wajahnya dan kurang semangat. “Baiklah jika
memang kamu sudah ngantuk. Aku tidak mau
sama
sekali memaksamu, lagi pula aku sudah cukup
senang dan
bahagia kamu bersedia menemaniku nonton sampai selarut ini.
Ayo kita masuk tidur” katanya sambil
mematikan TV-nya,
namun sebelum aku menutup pintu kamarku,
aku melihat sejenak
ia sempat memperhatikanku, tapi aku pura- pura tidak menghiraukannya. Di atas tempat
tidurku, aku gelisah dan bingung mengambil
keputusan tentang alasanku jika besok atau
lusa ia kembali
mengajakku nonton film tersebut. Antara mau,
malu dan rasa takut selalu menghantukiku. Mungkin dia juga
mengalami hal
yang sama, karena dari dalam kamarku selalu
terdengar ada
pintu kamar terbuka dan tertutup serta air
di kamar mandi selalu kedengaran tertumpah. Setelah kami makan malam bersama keesokan
harinya, kami
kembali nonton TV sama-sama di ruang tamu,
tapi penampilan
Sidar kali ini agak lain dari biasanya. Ia
berpakaian serba tipis dan tercium bau farfumnya yang harum
menyengat hidup
sepanjang ruang tamu itu. Jantungku sempat
berdebar dan
hatiku gelisah mencari alasan untuk menolak
ajakannya itu, meskipun gejolak hati kecilku untuk mengikuti kemauannya lebih
besar dari penolakanku. Belum aku sempat
menemukan alasan
tepat, maka “Nis, masih ingat janjimu tadi
malam? Atau kamu sudah ngantuk
lagi?” pertanyaan Sidar tiba-tiba mengagetkanku.
“O, oohh yah, aku ingat. Nonton VCD khan? Tapi
jangan yang
seram-seram donk filmnya, aku tak suka. Nanti
aku mimpi buruk
dan membuatku sakit, khan repot jadinya” jawabku
mengingatkan untuk tidak memutar film porn.
“Kita liat aja permainannya. Kamu pasti senang
menyaksikannya, karena aku yakin kamu belum
pernah
menontonnya, lagi pula ini film baru” kata Sidar sambil meraih
kotak yang berisi setumpuk kaset VCD lalu
menarik sekeping
kaset yang paling di atas seolah ia telah
mempersiapkannya,
lalu memasukkan ke CD, lalu mundur dua langkah dan duduk di sampingku menunggu apa
gerangan yang akan muncul di layar
TV tersebut. Dag, dig, dug, getaran jantungku
sangat keras menunggu
gambar yang akan tampil di layar TV. Mula-
mula aku yakin kalau filmnya adalah film yang dapat dipertontonkan
secara umum
karena gambar pertama yang muncul adalah dua
orang gadis
yang sedang berloma naik speed board atau
sampan dan saling membalap di atas air sungat. Namun dua menit
kemudian, muncul pula dua orang pria
memburuhnya dengan naik
kendaraan yang sama, akhirnya keempatnya
bertemu di tepi
sungai dan bergandengan tangan lalu masuk ke salah satu villa
untuk bersantai bersama. Tak lama kemudian
mereka berpasang-pasangan dan saling
membuka pakaiannya, lalu saling merangkul,
mencium dan
seterusnya sebagaimana layaknya suami istri. Niat
penolakanku tadi tiba-tiba terlupakan dan
terganti dengan
niat kemauanku. Kami tidak mampu
mengeluarkan kata-kata,
terutama ketika kami menyaksikan dua pasang muda mudi bertelanjang bulat dan saling
menjilati kemaluannya, bahkan
saling mengadu alat yang paling vitalnya. Kami
hanya bisa
saling memandang dan tersenyum.
“Gimana Nis,? Asyik khan? Atau ganti yang lain saja yang lucu-
lucu?” pancing Sidar, tapi aku tak
menjawabnya, malah aku
melenguh panjang.
“Apa kamu sering dan senang nonton film
beginian bersama suamimu?” giliran aku bertanya, tapi Sidar
hanya menatapku
tajam lalu mengangguk. “Hmmhh” kudengar
suara nafas panjang Sidar keluar dari
mulutnya.
“Apa kamu pernah praktekkan seperti di film itu Nis?” tanya
Sidar ketika salah seorang wanitanya sedang
menungging lalu
laki-lakinya menusukkan kontolnya dari
belakang lalu
mengocoknya dengan kuat. “Tidak, belum pernah” jawabku singkat sambil kembali
bernafas
panjang.
“Maukah kamu mencobanya nanti?” tanya Sidar
dengan suara
rendah. “Dengan siapa, kami khan pisah dengan istri
untuk sementara”
kataku. “Jika kamu bertemu istrimu nanti
atau wanita lain misalnya”
kata Sidar.
“Yachh.. Kita liat saja nanti. Boleh juga kami coba nanti
hahaha” kataku.
“Nis, apa malam ini kamu tidak ingin
mencobanya?” Tanya
Sidar sambil sedikit merapatkan tubuhnya
padaku. Saking rapatnya sehingga tubuhnya terasa hangatnya dan bau
harumnya.
“Dengan siapa? Apa dengan wanita di TV itu?”
tanyaku
memancing.
“Gimana jika dengan aku? Mumpung hanya kita berdua dan
nggak bakal ada orang lain yang tahu. Mau
khan?” Tanya Sidar lebih jelas lagi mengarah
sambil menyentuh tanganku, bahkan
menyandarkan badannya ke badanku. Sungguh
aku kaget dan jantungku seolah copot mendengar
rincian pertanyaannya itu, apalagi ia
menyentuhku. Aku tidak
mampu lagi berpikir apa-apa, melainkan
menerima apa adanya
malam itu. Aku tidak akan mungkin mampu menolak dan
mengecewakannya, apalagi aku sangat
menginginkannya,
karena telah beberapa bulan aku tidak
melakukan sex dengan istriku. Aku mencoba
merapatkan badanku pula, lalu mengelus tangannya dan merangkul punggungnya, sehingga
terasa
hangat sekali. “Apa kamu serius? Apa ini mimpi
atau kenyataan?” Tanyaku
amat gembira.
“Akan kubuktikan keseriusanku sekarang. Rasakan ini sayang”
tiba-tiba Sidar melompat lalu mengangkangi
kedua pahaku dan
duduk di atasnya sambil memelukku, serta
mencium pipi dan
bibirku bertubi-tubi. Tentu aku tidak mampu menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku
segera menyambutnya dan membalasnya dengan
sikap dan
tindakan yang sama. Nampaknya Sidar sudah
ingin segera
membuktikan dengan melepas sarung yang dipakainya, tapi
aku belum mau membuka celana panjang yang
kepakai malam
itu. Pergumulan kami dalam posisi duduk cukup
lama, meskipun
berkali-kali Sidar memintaku untuk segera melepaskan
celanaku, bahkan ia sendiri beberapa kali
berusaha membuka
kancingnya, tapi selalu saja kuminta agar ia
bersabar dan
pelan-pelan sebab waktunya sangat panjang. “Ayo Kak Nis, cepat sayang. Aku sudah tak
tahan ingin
membuktikannya” rayu Sidar sambil melepas
rangkulannya lalu
ia tidur telentang di atas karpet abu-abu
sambil menarik tanganku untuk menindihnya. Aku tidak tega
membiarkan ia
penasaran terus, sehingga aku segera
menindihnya.
“Buka celana sayang. Cepat.. Aku sudah capek
nih, ayo dong,” pintanya. Akupun segera menuruti permintaannya dan melepas celana
panjangku. Setelah itu, Sidar menjepitkan
ujung jari kakinya ke
bagian atas celana dalamku dan berusaha
mendorongnya ke
bawah, tapi ia tak berhasil karena aku sengaja mengangkat
punggungku tinggi-tinggi untuk
menghindarinya. Ketika aku mencoba
menyingkap baju daster yang dipakaianya
ke atas lalu ia sendiri melepaskannya, aku
kaget sebab tak kusangka kalau ia sama sekali tidak pakai
celana. Dalam hatiku
bahwa mungkin ia memang sengaja siap-siap
akan bersetubuh
denganku malam itu. Di bawah sinar lampu 10 W
yang dibarengi dengan cahaya TV yang semakin seru bermain
bugil, aku sangat jelas menyaksikan sebuah
lubang yang dikelilingi daging
montok nan putih mulus yang tidak ditumbuhi
bulu selembar
pun. Tampak menonjol sebuah benda mungil seperti biji kacang di
tengah-tengahnya. Rasanya cukup menantang
dan
mempertinggi birahiku, tapi aku tetap
berusaha
mengendalikannya agar aku bisa lebih lama bermain-main
dengannya. Ia sekarang sudah bugil 100%,
sehingga terlihat
bentuk tubuhnya yang langsing, putih mulus
dan indah sekali dipandang. “Ayo donk, tunggu
apa lagi sayang. Jangan biarkan aku tersiksa seperti ini” pinta Sidar tak pernah
berhenti untuk
segera menikmati puncaknya.
“Tenang sayang. Aku pasti akan memuaskanmu
malam ini, tapi
saya masih mau bermain-main lebih lama biar kita lebih banyak
menikmatinya”kataku Secara perlahan tapi
pasti, ujung lidahku mulai menyentuh tepi
lubang kenikmatannya sehingga membuat
pinggulnya bergerak-
gerak dan berdesis. “Nikmat khan kalau begini?” tanyaku berbisik sambil
menggerak-gerakkan lidahku ke kiri dan ke kanan
lalu
menekannya lebih dalam lagi sehingga Sidar
setengah
berteriak dan mengangkat tinggi-tinggi pantatnya seolah ia
menyambut dan ingin memperdalam masuknya
ujung lidahku. Ia hanya mengangguk dan
memperdengarkan suara desis dari
mulutnya. “Auhh.. Aakkhh.. Iihh.. Uhh.. Oohh..
Sstt” suara itu tak mampu dikurangi ketika aku gocok-gocokkan secara
lebih dalam dan
keras serta cepat keluar masuk ke lubang
kemaluannya.
“Teruuss sayang, nikkmat ssekalii.. Aakhh..
Uuhh. Aku belum pernah merasakan seperti ini sebelumnya”
katanya dengan
suara yang agak keras sambil menarik-narik
kepalaku agar lebih rapat lagi.
“Bagaimana? Sudah siap menyambut lidahku
yang panjang lagi keras?” tanyaku sambil melepaskan seluruh
pakaianku yang
masih tersisa dan kamipun sama-sama bugil.
Persentuhan tubuhku tak sehelai benangpun
yang melapisinya.
Terasa hangatnya hawa yang keluar dari tubuh kami. “Iiyah,. Dari tadi aku menunggu. Ayo,.
Cepat” kata Sidar
tergesa-gesa sambil membuka lebar-lebar
kedua pahanya,
bahkan membuka lebar-lebar lubang vaginanya
dengan menarik kiri kanan kedua bibirnya untuk memudahkan
jalannya
kemaluanku masuk lebih dalam lagi. Aku pun
tidak mau menunda-nunda lagi karena memang
aku
sudah puas bermain lidah di mulut atas dan mulut bawahnya,
apalagi keduanya sangat basah. Aku lalu
mengangkat kedua
kakinya hingga bersandar ke bahuku lalu
berusaha menusukkan
ujung kemaluanku ke lubang vagina yang sejak tadi menunggu
itu. Ternyata tidak mampu kutembus
sekaligus sesuai keinginanku. Ujung kulit
penisku tertahan, padahal Sidar sudah
bukan perawan lagi. “Ssaakiit ssediikit..,
ppeelan-pelan sedikit” kata Sidar ketika ujung penisku sedikit kutekan agak keras. Aku
gerakkan ke kiri
dan ke kanan tapi juga belum berhasil amblas.
Aku turunkan kedua kakinya lalu meraih sebuah
bantal kursi
yang di belakanku lalu kuganjalkan di bawah pinggulnya dan
membuka lebar kedua pahanya lalu kudorong
penisku agak
keras sehingga sudah mulai masuk setengahnya.
Sidarpun
merintih keras tapi tidak berkata apa-apa, sehingga aku tak
peduli, malah semakin kutekan dan kudorong
masuk hingga amblas seluruhnya. Setelah
seluruh batang penisku terbenam
semua, aku sejenak berhenti bergerak karena
capek dan melemaskan tubuhku di atas tubuh Sidar yang
juga diam sambil
bernafas panjang seolah baru kali ini menikmati
betul
persetubuhan. Sidar kembali menggerak-
gerakkan pinggulnya dan akupun menyambutnya. Bahkan aku tarik maju mundur
sedikit demi
sedikit hingga jalannya agak cepat lalu cepat
sekali. Pinggul
kami bergerak, bergoyang dan berputar seirama
sehingga menimbulkan bunyi-bunyian yangberirama pula.
“Tahan sebentar” kataku sambil mengangkat
kepala Sidar
tanpa mencabut penisku dari lubang vagina
Sidar sehingga
kami dalam posisi duduk. Kami saling merangkul dan menggerakkan pinggul, tapi tidak
lama karena terasa sulit. Lalu aku berbaring
dan telentang
sambil menarik kepada Sidar mengikutiku,
sehingga Sidar
berada di atasku. Kusarankan agar ia menggoyang, mengocok
dan memompa dengan keras lagi cepat. Ia pun
cukup mengerti
keinginanku sehingga kedua tangannya
bertumpu di atas dadaku lalu menghentakkan
agak keras bolak balik pantatnya ke penisku, sehingga terlihat kepalanya lemas
dan seolah mau
jatuh sebab baru kali itu ia melakukannya
dengan posisi
seperti itu. Karena itu, kumaklumi jika ia
cepat capek dan segera menjatuhkan tubuhnya menempel ke
atas tubuhku,
meskipun pinggulnya masih tetap bergerak naik
turun. “Kamu mungkin sangat capek. Gimana
kalau ganti posisi?”
kataku sambil mengangkat tubuh Sidar dan melapas
rangkulannya.
“Posisi bagaimana lagi? Aku sudah beberapa
kali merasa
nikmat sekali” tanyanya heran seolah tidak
tahu apa yang akan kulakukan, namun tetap ia ikuti permintaanku
karena ia pun merasa sangat nikmat dan belum
pernah mengalami permainan
seperti itu sebelumnya.
“Terima saja permainanku. Aku akan tunjukkan
beberapa pengalamanku”
“Yah.. Yah.. Cepat lakukan apa saja” katanya
singkat. Aku berdiri lalu mengangkat tubuhnya
dari belakang dan
kutuntunnya hingga ia dalam posisi nungging.
Setelah kubuka sedikit kedua pahanya dari belakan, aku lalu
menusukkan
kembali ujung penisku ke lubangnya lalu
mengocok dengan keras
dan cepat sehingga menimbulkan bunyi dengan
irama yang indah seiring dengan gerakanku. Sidar pun
terengah-engah dan napasnya terputus-putus
menerima kenikmatan itu. Posisi kami
ini tak lama sebab Sidar tak mampu menahan
rasa capeknya
berlutut sambil kupompa dari belakan. Karenanya, aku
kembalikan ke posisi semula yaitu tidur
telentang dengan paha
terbuka lebar lalu kutindih dan kukocok dari
depan, lalu
kuangkat kedua kakinya bersandar ke bahuku. Posisi inilah yang membuat permainan kami
memuncak karena
tak lama setelah itu, Sidar berteriak-teriak
sambil merangkul
keras pinggangku dan mencakar-cakar
punggungku. Bahkan sesekali menarik keras wajahku menempel ke
wajahnya dan
menggigitnya dengan gigitan kecil. Bersamaan
dengan itu pula,
aku merasakan ada cairan hangat mulai menjalar
di batang penisku, terutama ketika terasa sekujur tubuh Sidar gemetar. Aku tetap
berusaha untuk menghindari pertemuan antara
spermaku dengan sel telur Sidar, tapi
terlambat, karena baru
aku mencoba mengangkat punggungku dan
berniat menumpahkan di luar rahimnya, tapi Sidar
malah mengikatkan
tangannya lebih erat seolah melarangku
menumpahkan di luar
yang akhirnya cairan kental dan hangat itu
terpaksa tumpah seluruhnya di dalam rahim Sidar. Sidar nampaknya tidak
menyesal, malah sedikit ceria menerimanya,
tapi aku diliputi
rasa takut kalau-kalau jadi janin nantinya,
yang akan
membuatku malu dan hubungan persahabatanku berantakan. Setelah kami
sama-sama mencapai puncak, puas dan
menikmati persetubuhan yang sesungguhnya,
kami lalu
tergeletak di atas karpet tanpa bantal. Layar
TV sudah berwarna biru karena pergumulan filmnya sejak
tadi selesai.
Aku lihat jam dinding menunjukkan pukul 12.00
malam tanpa
terasa kami bermain kurang lebih 3 jam. Kami
sama-sama terdiam dan tak mampu berkata- kata apapun hingga tertidur
lelap. Setelah terbangun jam 7.00 pagi di
tempat itu, rasanya
masih terasa capek bercampur segar. “Nis,
kamu sangat hebat. Aku belum pernah
mendapatkan kenikmatan dari suamiku selama ini seperti
yang kamu berikan
tadi malam” kata Sidar ketika ia juga
terbangun pagi itu
sambil merangkulku.
“Benar nih, jangan-jangan hanya gombal untuk menyenangkanku” tanyaku. “Sumpah.. Terus
terang suamiku lebih banyak memikirkan
kesenangannya dan posisi mainnya hanya satu
saja. Ia di atas
dan aku di bawah. Kadang ia loyo sebelum kami
apa-apa. Kontolnya pendek sekali sehingga tidak mampu
memberikan
kenikmatan padaku seperti yang kami berikan.
Andai saja
kamu suamiku, pasti aku bahagia sekali dan
selalu mau bersetubuh, kalau perlu setiap hari dan setiap malam”
paparnya seolah menyesali hubungannya dengan
suaminya dan
membandingkan denganku.
“Tidak boleh sayang. Itu namanya sudah jodoh
yang tidak mampu kita tolak. Kitapun berjodoh
bersetubuh dengan cara
selingkuh. Sudahlah. Yang penting kita sudah
menikmatinya dan akan terus menikmatinya”
kataku sambil menenangkannya
sekaligus mencium keningnya. “Maukah kamu terus menerus memberiku
kenikmatan seperti
tadi malam itu ketika suamiku tak ada di
rumah” tanyanya
menuntut janjiku.
“Iyah, pasti selama aman dan aku tinggal bersamamu. Masih banyak permainanku yang
belum kutunjukkan” kataku berjanji
akan mengulanginya
“Gimana kalau istri dan anak-anakmu nanti
datang?” tanyanya
khawatir. “Gampang diatur. Aku kan pembantumu,
sehingga aku bisa
selalu dekat denganmu tanpa kecurigaan
istriku. Apalagi istriku pasti tak tahan
tinggal di kota sebab ia sudah terbiasa di
kampung bersama keluarganya tapi yang kutakutkan jika kamu
hamil tanpa diakui suamimu” kataku.
“Aku tak bakal hamil, karena aku akan memakan
pil KB sebelum
bermain seperti yang kulakukan tadi malam,
karena memang telah kurencanakan” kara Sidar terus terang.
Setelah kami bincang-bincang sambil tiduran di
atas karpet,
kami lalu ke kamar mandi masing-masing
membersihkan diri lalu
kami ke halaman rumah membersihkan setelah sarapan pagi
bersama. Sejak saat itu, kami hampir setiap
malam
melakukannya, terutama ketika suami Sidar
tak ada di rumah,
baik siang hari apalagi malam hari, bahkan beberapa kali kulakukan di kamarku ketika
suami Sidar masih tertidur di
kamarnya, sebab Sidar sendiri yang mendatangi
kamarku
ketika sedang “haus”. Entah sampai kapan hal
ini akan berlangsung, tapi yang jelas hingga saat ini kami masih selalu ingin
melakukannya dan belum
ada tanda-tanda kecurigaan dari suaminya dan
dari istriku.
Cialis 10mg Cost Tomar Viagra Sin Necesidad cialis overnight shipping from usa Proscar O Propecia Principio Activo